HUMAN EROR- PABRIK KEMBANG API DADAP



kembang api kawat-merek Sun Fireworks

Ruangannya yang lepas menjadi sasaran percikan api yang menyajikan keindahan namun tragis. PT. Panca Buana Cahaya Sukses adalah salah satu perusahaan yang memproduksi pembuatan serta pengemasan kembang api yang berjenis kawat. Kembang api merek Sun Fireworks ini diimpor oleh perusahaan yang dimiliki Indra liono, PT. Panca Buana Global Kharisma.

PT. Panca Buana Cahaya Sukses tidak memiliki izin resmi sebagai pabrik yang memproduksi kembang api. Izin awal PT. Panca Buana Cahaya Sukses hanya pengayakan pasir pada februari 2017. Kemudian pabrik baru beroperasi menjadi tempat produksi pembuatan dan pengemasan pada Agustus-September 2017, dua bulan sebelum insiden kebakaran pabrik terjadi. Sebagian masyarakat dadap masih banyak mengira pabrik tersebut hanya sebagai pergudangan penyimpanan bahan baku atau pengelola pasir bangunan. 

Ibu Mumun
Ibu Mumun berhenti pada hari pertama dia masuk kerja di gudang mercon PT. Panca Buana Cahaya Sukses. Dia masuk kerja pada hari Rabu, 25 Oktober 2017. Langsung diterima sebagai karyawati tanpa diminta surat lamaran. “Saya masuk kerja pada pukul 09.00 WIB. Ketika itu saya senang, karena pas pagi, mesinnya tidak dinyalakan. Hening. Saya berpikir, wah betah nih” Ibu Mumun.
Namun, ketenangannya mulai terganggu ketika mesin dinyalakan pukul 13.00 WIB. “Suara mesin sangat keras, tambah udara di dalam gudang menjadi panas dan pengap. Kepala saya pusing, ketika di waktu istirahat saya izin pulang ke mandor dan meminta untuk di esok harinya saya dipindahkan di bagian depan untuk mengemas kembang api. Namun tak diperbolehkan, karena tenaga kerja di depan sudah penuh. Dengan demikian saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi” Ibu Mumun.
Menurut Ibu Mumun, di dalam gudang dipenuhi dengan mesin-mesin yang jarak satu sama lainnya sangat rapat dan juga lokasinya bersamaan dengan tempat mengemas kembang api. Sehingga karyawan-karyawati susah untuk keluar karena tergencet mesin-mesin dan onggokan kembang api.

Dahulu Kosambi memiliki ruang hidup kawasan lahan-lahan semarak hijau perkebunan dan persawahan. Pada awal 1990-an kosambi menjadi salah satu rambahan kawasan pergudangan dekat perpusatan Ibu Kota. Pembangunan pergudangan ini telah memakan ruang hidup kawasan lahan-lahan semarak hijau perkebunan dan persawahan di Kosambi. Beralih rupa menjadi ruang hidup beton putih berpagar tinggi.
Pelan tapi pasti, pendapatan warga setempat yang semula mengandalkan mata pencaharian dari bercocok tanam, berubah dengan menggantungkan diri pada perputaran uang di sentra pergudangan. Sejak tahun 2000-an, pergudangan di Kosambi mencangkup ke Desa Kosambi Timur, Jatimulya, Dadap, dan sisi Barat Cengklong dan Belimbing.

Desa Belimbing yang memilukan 

Kamis, 26 Oktober 2017. Pukul 09.00 wib, Ibu Suryani berangkat bekerja sebagai karyawati di bagian pengemasan kembang api. Ia karyawati yang berusia 34 tahun dan telah bekerja hampir sebulan lebih. Jarak lokasi pabrik dan rumahnya tidak jauh. Ia hanya perlu berjalan kaki keluar gang, lalu belok ke kiri melewati kantor Desa Cengklong dan Gedung Serbaguna, dan beberapa meter melewati halaman kosong, kemudian menyeberangi jalan. Tibalah ia di depan pintu gerbang warna hijau, tempatnya bekerja.
Ibu Suryani mulai bekerja mengemas kembang api dengan para karyawati lainnya. Ia mengatakan, “Pagi itu suasana hening, kami para pekerja antusias sekali dengan mengemas kembang api. Waktu itu pabrik melakukan kerja besar-besaran, mungkin berhubungan mau tahun baru, ada pesanan banyak.”

Kebakaran Pabrik Kembang Api
Sesaat sebelum percikan kembang api membumbung. Agus H tengah duduk sembari membaca koran di warung kopi milikinya. “Boom…boom… bang…bung…buum.”, terperanjat oleh suara ledakan dan melihat api menyembur ke langit. Sontak berdiri dan mencari tahu asal ledakan, dan melihat sebuah atap pabrik dihujani oleh asap. Suara ledakan berbunyi lagi dengan gemeretak, mengalirkan getaran.
Agus berlari ke lokasi pabrik bersama dengan warga lainnya yang sontak terperanjat. ia mengatakan, “Asap hitam tebal mengepul di langit, tertiup angin ke arah utara dan serong ke timur laut tepat ke SMP Negeri 1 Kosambi. Yang jaraknya hanya 30 meter dari lokasi kejadian.”
“Saya dan ribuan warga terpontang-panting berlari mendekati pabrik sembari menjaga jarak dari lokasi kebakaran tersebut. Ada warga panik histeris dan ada yang sigap menyelamatkan saudaranya yang bekerja di pabrik tersebut.”, Agus.
“Beberapa warga dan pasukan brimob mencari cara untuk menjebol tembok bagian kanan depan pabrik. Teriakan minta tolong pun semakin banyak saja. Sepertinya mereka terperangkap di dalam gudang karena api tambah besar dengan asap hitam tebalnya. Suara petasan pun ikut meramaikan kejadian tersebut. Cuaca kala itu panas dan semakin panas akibat kebakaran tersebut’’ tambah Agus.

Di belakang pabrik, Herianto melihat seorang karyawan berusaha melompati tembok, tetapi terhalang atap asbes yang mepet dengan tembok.
“Ambil tangga, tangga.”, teriak seorang warga. Ucap Heri.
“Saya pun berlari meminjam tangga kepada rumah warga yang dekat dengan kantor Kepala Desa. Tangga tersebut langsung disandarkan pada tembok. Ada tiga warga yang naik dan membantu menjebolkan atap asbes dan membantu para pekerja untuk menyelamatkan diri mereka” Heri.
Dari beberapa korban yang berhasil menyelamatkan dirinya, mengalami luka bakar dan patah tulang akibat melompati tembok, Heri.
Ibu Tati (38)

Ibu Tati adalah seorang ibu rumah tangga, yang rumahnya berada sekitar empat rumah dari lokasi insiden kebakaran pabrik kembang api. 
Sebelum beberapa menit terjadinya kebakaran pabrik kembang api, Ibu Tati sedang membersihkan dan memasak untuk jualan warungnya. Menurut beliau kejadian kebakaran terjadi sekitar jam 09.00 WIB. Ketika ledakan pertama beliau sangat terkejut dan mencari lokasi suara ledakan dari kembang api yang diproduksi pabrik PT. Panca Buana Cahaya Sukses. 
Beliau mengatakan bahwa banyak suara teriakan untuk meminta tolong dan melihat para pekerja yang berusaha menyelamatkan diri. Ibu Tati pun langsung bergegas membantu para korban yang selamat dengan luka bakar. Bu tati membantu para korban untuk membersihkan luka-luka akibat percikan api. 
Namun pada ledakan kedua Bu Tati merasa takut dan menyelamatkan diri, karena suara ledakannya sangat besar sekali dan si jago merah pun semakin marah. Ibu Tati mengatakan, percikan petasan dapat melampaui hingga kerumah Ibu Tati, Kabel listrik jalanan pun ikut terbakar dan tiangnya roboh.
Ibu Tati mengatakan, bahwa biasanya para ibu-ibu yang bekerja di pabrik sering beristirahat sembari makan siang di warung makannya, Ibu Tati pun mengatakan bahwa ia dengan para korban sering berbincang-bincang sembari membuat suasana riang. 
Ibu Tati juga mengatakan, bahwa kumpulan Ibu-ibu yang sering beristirahat dirumahnya, tak ada satupun selamat. Ibu Tati pun tak kenal salah satu dari para pekerja, setiap bertegur sapa pun mereka hanya saling memanggil dengan sebutan "Mpok."



Dena Pabrik Kembang Api Dadap
Kala itu Ibu Suryani berada di bagian pengemasan. Ia sangat fokus sekali mengemaskan kembang api, karena kerjanya yang kejar target.
Setibanya bunyi suara, “Tak…tek…tek…tak. Dar…darrr.”
Ibu Suryani dan karyawati lainnya sontak terkejut dan melihat di bagian depan pabrik yang mengeluarkan suara kembang api. Yang dimana hasil kembang api yang sudah selesai dikemas dan sortir disusun di bagian depan dan tempat penyimpanan bahan-bahan kembang api.
Ibu Suryani mengatakan bahwa karyawan yang bekerja dekat dengan asal mula ledakan kembang api berlarian menyelamatkan diri dan berteriak, “Api…api… lari… selamatkan diri kalian.”
Sontak Ibu Suryani dan karyawan lainnya berlari mencari perlindungan dan jalan keluar. Ibu Suryani sendiri berlari ke arah bagian kanan depan pabrik, karena api sudah mengepung bagian depan jalan ke pintu utama pabrik.
Syukurnya Ibu Suryani bisa menyelamatkan dirinya, meski percikan kembang api melukai sekujur tubuhnya dan pernafasan yang melemah akibat udara kian memanas dan pengap oleh asap dari kembang api.


Pabrik memproduksi kembang api kawat bermerek Sun Fireworks. Ukuran kembang api dari 10 sentimeter hingga ukuran super jumbo 50 sentimeter. Para pekerja perempuan yang di bagian pengemasan, berada di sisi kiri bagian tengah pabrik. Sedangkan pekerja laki-laki, bagian operator mesin dan angkut barang baku, terletak di sepanjang bagian belakang pabrik. Jam operasional pabrik dari jam 09.00 hingga 17.00 WIB.
Ibu Suryani mengatakan bahwa ada lebih dari 60 karung barium nitrat yang diimpor dari Cina. Bahan baku ini disusun di gudang penyimpanan, di bagian depan sisi kiri pabrik.
Ibu Suryani, “Kita bekerja selama sembilan jam dalam sehari menghirup udara beracun di dalam pabrik. Saya biasanya bekerja menggunakan sarung tangan, sandal, masker tipis. Saya pakai masker rangkap dua juga tembus. Dan parahnya kami tidak ada dibekali asuransi kesehatan.”
Ibu Suryani mengalami luka-luka bakar yang terkena percikan kembang api dan saat ini lukanya mulai sembuh. Ibu Suryani ketika itu mulai berkerja awal bulan September 2017. Pengakuan Ibu Suryani mengatakan persyaratan kerja di PT. Panca Buana Cahaya Sukses hanya menyerahkan satu lembar fotokopi KTP, tanpa tes atau wawancara. Pada hari itu juga dia bekerja, dan setiap pelamar langsung diminta bekerja.
Pagi itu proses belajar-mengajar sudah dimulai dilakukan sekolah SMP Negeri 1 Kosambi, guru dan murid-murid melaksanakan proses belajar.
“Duaarrrrr!!”
Suara ledakan mengejutkan bagi guru dan murid-murid SMP Negeri 1 Kosambi. Suara ledakan itu sangat terasa dekat sekali dan tanah bergetar. Parah guru dan murid-murid berlarian ke halaman sekolah dan melihat langit dihujani asap gelap nan tebal. Proses mengajar-belajar pun dibubarkan, para murid-murid menyelamatkan diri mereka dari kejadian kebakaran pabrik tersebut, karena jarak sekolah dengan pabrik dekat sekali.
Pengakuan seorang guru, Ibu Ningsih Putri. “Suara ledakan sangat besar sekali, api sangat membesar, asap tebal menghiasi langit. Sekolah membubarkan proses belajar-mengajar. Para murid-murid panik ketakutan, ada yang menangis dan bingung menyelamatkan diri karena asap hitam tebal mulai berembus ke arah sekolah. Saya hanya bisa menyampaikan kepada murid-murid agar mengucap Ayat-Ayat Al-quran.”
***
Cerita Ibu Mumun, ketika ia sedang memasak di dapur, Mumun mendapat kabar dari tetangganya. Bahwa pabrik kembang api yang ia pernah kerja, terbakar. Tak percaya, ia bergegas menuju lokasi kejadian di Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tanggerang, Banten.
Ibu Mumun mengatakan, ia sangat bersyukur sekali firasatnya memilih agar tidak bekerja lagi di hari kedua masuk kerja, pasca peristiwa tersebut. Ia juga mengatakan bahwa karyawan-karyawati yang bekerja di pabrik tersebut tidak hanya ada orang dewasa, tetapi juga ada anak-anak dibawah umur. Bahkan teman sekerjanya ketika ia pertama kali bekerja adalah lulusan SD. Ia juga mengatakan bahwa karyawan-karyawati yang bekerja ada seratusan lebih dan kebanyakan pekerjanya adalah wanita dan lulusan sekolah SD, SMP, dan SMA.
Fitri (17) Karyawan yang selamat
Fitri karyawati yang berusia 17 tahun dan sudah bekerja seminggu sebelum kebakaran terjadi. Asal mula masuk kerja Fitri diajak sepupunya yang lebih awal dulu bekerja sebagai mengemas kembang api. Sesaat perekrutan sebagai karyawan, Fitri langsung dipekerjakan. Tugasnya hanya mengemas kembang api ke dalam plastik dan kemudian menyusunnya ke dalam karton. Sehari-hari waktu kerja Fitri selama tujuh jam dan di tambah satu jam waktu istirahat siang pada pukul 13.00 WIB. Fitri hanya diberikan upah sejumlah Rp 40 ribu per hari dan jika ada borongan para pekerja di gaji Rp 7 ribu per jam nya untuk lembur.

Fitri mengatakan selama bekerja dipabrik, ia merasa nyaman. Fitri juga memberikan pengakuan bahwa bekerja dipabrik tersebut tidak mendapatkan SOP atau Asuransi Kesehatan.
Fitri dengan wajahnya melamun sembari mengatakan, “Sangat tragis. Banyak yang meminta tolong. Dan pekerja yang mengemas kembang api bagian dalam pabrik lebih memilih untuk bersembunyi di dalam, karena asap dari depan menutupi penglihatan mereka ketika ingin menyelematkan diri dan membuat mereka takut.”
Fitri memberikan pengakuan bahwa tenaga kerja dipabrik kembang api seratusan lebih, dan mengatakan betul bahwa kebanyakan di antaranya adalah perempuan dan anak di bawah umur.”
Ketika meloloskan diri, Fitri menyeburkan diri terdahulu ke dalam bak yang berisi air, kemudian dia memanjat tembok yang sudah di jebolkan oleh Aparat Brimob dan Warga, Fitri tidak terkena percikan api, melainkan suhu panas yang disebabkan oleh api menjadikan kulit tangannya terbakar. Fitri adalah korban karyawan di PT. Panca Buana Cahaya Sukses, yang terbilang masih di bawah umur. 
Saat ini Fitri sudah bekerja kembali disalah satu pabrik produksi mainan anak di daerah kosambi, Fitri mengatakan bahwa dia sudah bekerja hampir dua tahun di pabrik mainan anak tersebut. seminggu sebelum Fitri bekerja di pabrik kembang api ternyata telah dirumahkan oleh pihak pabrik mainan anak yang dia pertama kerja, karena Fitri harus mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, Fitri terpaksa meminta bantuan kepada sepupunya untuk dimasukkan bekerja di PT. Panca Buana Cahaya Sukses.


Sesudahnya suasana hening di Kampung Sawah. Jalanan gelap. Hanya cahaya remang-remang di depan rumah-rumah warga. Aliran listrik terpaksa diputuskan.
Hingga malam pun, evakuasi masih berjalan untuk mencari korban yang masih terperangkap di lokasi kejadian. Ibu Astuti, dengan hati gelisah. Duduk termenung. Berharap Surnah selamat.
Hingga malam itu, data-data dan indentitas korban yang meninggal belum terdeteksi.

Kabar keesokan harinya

Ibu Surnah 
Astuti menangis histeris dan berteriak untuk anaknya Surnah agar dapat kembali. Meminta kepada sang Suami Suki, agar mengantarkannya kembali ke pabrik kembang api tersebut. Suki dengan tegar juga menenangkan sang istri.
“Nanti ke sana, nanti ke sana” ucap Suki.
“Istigfar…istigfar” ucapnya lagi.
Selepas subuh, Astuti kembali histeris. Dan mengatakan, “Aku mau ke pabrik, aku masih di sana, aku masih di sana. Di kamar mandi” Teriaknya.
Tak kuasa melihat tangisan Astuti, Suki pun memutuskan mengantar istrinya tersebut ke lokasi kebakaran. Ia tau bahwa istrinya kerasukan roh Surnah. Sesampai di depan posko, Astuti kembali berteriak histeris dan tangannya menunjuk ke pabrik yang sudah hancur.
“Istigfar…istigfar…” Suki mengucapkan untuk istrinya.
Suki memeluk Astuti dan setibanya Astuti terkulai lemas. Semenit kemudian Astuti sadar dan mulai menangis.
“Surnah…Surnah…”, suara Astuti meredup. “Surnah masih di sana sama temannya. Di kamar mandi.”
Seorang petugas penjaga pos menyarankan Suki untuk membawa istrinya tersebut pulang. Sebab semua korban sudah dievakuasi, ucap Suki kepada saya.
Minggu, 19 Oktober 2017. Suki mendapatkan kabar dari pihak RS. Polri bahwa indentitas anaknya Surnah sudah ditemukan dan dapat dijemput agar disemayamkan di tempat istrihat terakhirnya.
kondisi pabrik setelah lima bulan pasca kebakaran


Lurah Kota, Kepala Desa Belimbing mengatakan, “Bahwa bekerja di pabrik kembang api sangat mudah sekali untuk mendapat pekerjaan. Tidak menggunakan lamaran kerja dan terima langsung masuk bekerja. Kebanyakan bahwa masyarakatnya adalah yang memiliki pendidikan yang kurang dan paling rendah adalah mereka yang lulusan atau  putus sekolah SD hingga SMP akibat perekonomian yang rendah. Hal ini membuat para masyarakat belimbing berlomba-lomba untuk bekerja di pabrik kembang api.”
Lurah menambahkan, “bahwa perisitiwa kebakaran ini di akibatkan oleh Operasional yang lalai, Direktur Operasional  Perusahaan bernama Andri Hartanto. Meminta Subarna Ega adalah seorang pengelas. agar mengelas atap gudang bagian depan pabrik, kemudian mengakibatkan kebakaran karena percikan api menyambar bahan baku kembang api yang tersusun di bagian penyimpanan.
Menurutnya, pekerja di dalam pabrik sebanyak 103 orang dengan catatannya sebanyak 49 orang meninggal dunia yang diakibatkan api telah mengepung bagian depan pabrik dan para korban lebih memilih menyelamatkan diri melalui bagian belakang pabrik. Dan sisa korban lainnya mengalami luka bakar dan ada yang patah tulang.
Beliau juga mengatakan, bahwa kepolisian telah menangkap  tersangka dalam peristiwa ini, yakni Pemilik Perusahaan Indra Liyono, Direktur Operasional Andri Hartanto, dan tersangka Tukang Las Surbana Ega. menurut Lurah, Surbana Ega tewas di tempat dan kepingan tubuhnya tidak dapat terindentifikasi. #GSH

WRITER : GITA SERE HUTAHAEAN

THANKS TO : JURNALISME NARATIF- FORMAS JUITAN LASE, S.SOS., M.I.KOM




Komentar

Postingan Populer