HUMAN EROR- PABRIK KEMBANG API DADAP
![]() |
| kembang api kawat-merek Sun Fireworks |
Ruangannya yang lepas menjadi sasaran percikan api yang menyajikan keindahan namun tragis. PT. Panca Buana Cahaya Sukses adalah salah satu perusahaan yang memproduksi pembuatan serta pengemasan kembang api yang berjenis kawat. Kembang api merek Sun Fireworks ini diimpor oleh perusahaan yang dimiliki Indra liono, PT. Panca Buana Global Kharisma.
PT.
Panca Buana Cahaya Sukses tidak memiliki izin resmi sebagai pabrik yang
memproduksi kembang api. Izin awal PT. Panca Buana Cahaya Sukses hanya
pengayakan pasir pada februari 2017. Kemudian pabrik baru beroperasi menjadi
tempat produksi pembuatan dan pengemasan pada Agustus-September 2017, dua bulan
sebelum insiden kebakaran pabrik terjadi. Sebagian masyarakat dadap masih
banyak mengira pabrik tersebut hanya sebagai pergudangan penyimpanan bahan baku
atau pengelola pasir bangunan.
![]() |
| Ibu Mumun |
Namun, ketenangannya mulai terganggu ketika
mesin dinyalakan pukul 13.00 WIB. “Suara mesin sangat keras, tambah udara di
dalam gudang menjadi panas dan pengap. Kepala saya pusing, ketika di waktu
istirahat saya izin pulang ke mandor dan meminta untuk di esok harinya saya
dipindahkan di bagian depan untuk mengemas kembang api. Namun tak
diperbolehkan, karena tenaga kerja di depan sudah penuh. Dengan demikian saya
memutuskan untuk tidak bekerja lagi” Ibu Mumun.
Menurut Ibu Mumun, di dalam gudang dipenuhi
dengan mesin-mesin yang jarak satu sama lainnya sangat rapat dan juga lokasinya
bersamaan dengan tempat mengemas kembang api. Sehingga karyawan-karyawati susah
untuk keluar karena tergencet mesin-mesin dan onggokan kembang api.
Dahulu Kosambi memiliki ruang hidup kawasan
lahan-lahan semarak hijau perkebunan dan persawahan. Pada awal 1990-an kosambi
menjadi salah satu rambahan kawasan pergudangan dekat perpusatan Ibu Kota. Pembangunan
pergudangan ini telah memakan ruang hidup kawasan lahan-lahan semarak hijau
perkebunan dan persawahan di Kosambi. Beralih rupa menjadi ruang hidup beton
putih berpagar tinggi.
Pelan tapi pasti, pendapatan warga setempat
yang semula mengandalkan mata pencaharian dari bercocok tanam, berubah dengan
menggantungkan diri pada perputaran uang di sentra pergudangan. Sejak tahun
2000-an, pergudangan di Kosambi mencangkup ke Desa Kosambi Timur, Jatimulya,
Dadap, dan sisi Barat Cengklong dan Belimbing.
Desa Belimbing yang memilukan
Kamis, 26 Oktober 2017. Pukul 09.00 wib,
Ibu Suryani berangkat bekerja sebagai karyawati di bagian pengemasan kembang
api. Ia karyawati yang berusia 34 tahun dan telah bekerja hampir sebulan lebih.
Jarak lokasi pabrik dan rumahnya tidak jauh. Ia hanya perlu berjalan kaki
keluar gang, lalu belok ke kiri melewati kantor Desa Cengklong dan Gedung
Serbaguna, dan beberapa meter melewati halaman kosong, kemudian menyeberangi
jalan. Tibalah ia di depan pintu gerbang warna hijau, tempatnya bekerja.
Ibu Suryani mulai bekerja mengemas kembang
api dengan para karyawati lainnya. Ia mengatakan, “Pagi itu suasana hening,
kami para pekerja antusias sekali dengan mengemas kembang api. Waktu itu pabrik
melakukan kerja besar-besaran, mungkin berhubungan mau tahun baru, ada pesanan
banyak.”
Sesaat sebelum percikan kembang api
membumbung. Agus H tengah duduk sembari membaca koran di warung
kopi milikinya. “Boom…boom… bang…bung…buum.”, terperanjat oleh suara ledakan dan melihat
api menyembur ke langit. Sontak berdiri dan mencari tahu asal ledakan, dan
melihat sebuah atap pabrik dihujani oleh asap. Suara ledakan berbunyi lagi
dengan gemeretak, mengalirkan getaran.
Agus berlari ke lokasi pabrik bersama
dengan warga lainnya yang sontak terperanjat. ia mengatakan, “Asap hitam tebal
mengepul di langit, tertiup angin ke arah utara dan serong ke timur laut tepat
ke SMP Negeri 1 Kosambi. Yang jaraknya hanya 30 meter dari lokasi kejadian.”
“Saya dan ribuan warga terpontang-panting berlari
mendekati pabrik sembari menjaga jarak dari lokasi kebakaran tersebut. Ada
warga panik histeris dan ada yang sigap menyelamatkan saudaranya yang bekerja
di pabrik tersebut.”, Agus.
“Beberapa warga dan pasukan brimob mencari
cara untuk menjebol tembok bagian kanan depan pabrik. Teriakan minta tolong pun
semakin banyak saja. Sepertinya mereka terperangkap di dalam gudang karena api
tambah besar dengan asap hitam tebalnya. Suara petasan pun ikut meramaikan
kejadian tersebut. Cuaca kala itu panas dan semakin panas akibat kebakaran tersebut’’
tambah Agus.
Di belakang pabrik, Herianto melihat
seorang karyawan berusaha melompati tembok, tetapi terhalang atap asbes yang
mepet dengan tembok.
“Ambil tangga, tangga.”, teriak seorang
warga. Ucap Heri.
“Saya pun berlari meminjam tangga kepada
rumah warga yang dekat dengan kantor Kepala Desa. Tangga tersebut langsung
disandarkan pada tembok. Ada tiga warga yang naik dan membantu menjebolkan atap
asbes dan membantu para pekerja untuk menyelamatkan diri mereka” Heri.
Dari beberapa korban yang berhasil
menyelamatkan dirinya, mengalami luka bakar dan patah tulang akibat melompati
tembok, Heri.
Kala itu Ibu Suryani berada di bagian pengemasan. Ia sangat fokus sekali mengemaskan kembang api, karena kerjanya
yang kejar target.
Setibanya bunyi suara, “Tak…tek…tek…tak.
Dar…darrr.”
Ibu Suryani dan karyawati lainnya sontak terkejut
dan melihat di bagian depan pabrik yang mengeluarkan suara kembang api. Yang
dimana hasil kembang api yang sudah selesai dikemas dan sortir disusun di
bagian depan dan tempat penyimpanan bahan-bahan kembang api.
Ibu Suryani mengatakan bahwa karyawan yang
bekerja dekat dengan asal mula ledakan kembang api berlarian menyelamatkan diri
dan berteriak, “Api…api… lari… selamatkan diri kalian.”
Sontak Ibu Suryani dan karyawan lainnya
berlari mencari perlindungan dan jalan keluar. Ibu Suryani sendiri berlari ke
arah bagian kanan depan pabrik, karena api sudah mengepung bagian depan jalan
ke pintu utama pabrik.
Syukurnya Ibu Suryani bisa menyelamatkan
dirinya, meski percikan kembang api melukai sekujur tubuhnya dan pernafasan
yang melemah akibat udara kian memanas dan pengap oleh asap dari kembang api.
Pabrik memproduksi kembang api kawat
bermerek Sun Fireworks. Ukuran kembang api dari 10 sentimeter hingga ukuran super
jumbo 50 sentimeter. Para pekerja perempuan yang di bagian pengemasan, berada
di sisi kiri bagian tengah pabrik. Sedangkan pekerja laki-laki, bagian operator
mesin dan angkut barang baku, terletak di sepanjang bagian belakang pabrik. Jam
operasional pabrik dari jam 09.00 hingga 17.00 WIB.
Ibu Suryani mengatakan bahwa ada lebih dari
60 karung barium nitrat yang diimpor dari Cina. Bahan baku ini disusun di
gudang penyimpanan, di bagian depan sisi kiri pabrik.
Ibu Suryani, “Kita bekerja selama sembilan
jam dalam sehari menghirup udara beracun di dalam pabrik. Saya biasanya bekerja
menggunakan sarung tangan, sandal, masker tipis. Saya pakai masker rangkap dua juga
tembus. Dan parahnya kami tidak ada dibekali asuransi kesehatan.”
Ibu Suryani mengalami luka-luka bakar yang
terkena percikan kembang api dan saat ini lukanya mulai sembuh. Ibu Suryani
ketika itu mulai berkerja awal bulan September 2017. Pengakuan Ibu Suryani mengatakan
persyaratan kerja di PT. Panca Buana Cahaya Sukses hanya menyerahkan satu
lembar fotokopi KTP, tanpa tes atau wawancara. Pada hari itu juga dia bekerja,
dan setiap pelamar langsung diminta bekerja.
Pagi itu proses belajar-mengajar sudah
dimulai dilakukan sekolah SMP Negeri 1 Kosambi, guru dan murid-murid
melaksanakan proses belajar.
“Duaarrrrr!!”
Suara ledakan mengejutkan bagi guru dan
murid-murid SMP Negeri 1 Kosambi. Suara ledakan itu sangat terasa dekat sekali
dan tanah bergetar. Parah guru dan murid-murid berlarian ke halaman sekolah dan
melihat langit dihujani asap gelap nan tebal. Proses mengajar-belajar pun dibubarkan,
para murid-murid menyelamatkan diri mereka dari kejadian kebakaran pabrik
tersebut, karena jarak sekolah dengan pabrik dekat sekali.
Pengakuan seorang guru, Ibu Ningsih Putri.
“Suara ledakan sangat besar sekali, api sangat membesar, asap tebal menghiasi
langit. Sekolah membubarkan proses belajar-mengajar. Para murid-murid panik
ketakutan, ada yang menangis dan bingung menyelamatkan diri karena asap hitam
tebal mulai berembus ke arah sekolah. Saya hanya bisa menyampaikan kepada
murid-murid agar mengucap Ayat-Ayat Al-quran.”
***
Cerita Ibu Mumun, ketika ia sedang memasak
di dapur, Mumun mendapat kabar dari tetangganya. Bahwa pabrik kembang api yang
ia pernah kerja, terbakar. Tak percaya, ia bergegas menuju lokasi kejadian di
Desa Belimbing, Kosambi, Kabupaten Tanggerang, Banten.
Ibu Mumun mengatakan, ia sangat bersyukur
sekali firasatnya memilih agar tidak bekerja lagi di hari kedua masuk kerja,
pasca peristiwa tersebut. Ia juga mengatakan bahwa karyawan-karyawati yang
bekerja di pabrik tersebut tidak hanya ada orang dewasa, tetapi juga ada
anak-anak dibawah umur. Bahkan teman sekerjanya ketika ia pertama kali bekerja
adalah lulusan SD. Ia juga mengatakan bahwa karyawan-karyawati yang bekerja ada
seratusan lebih dan kebanyakan pekerjanya adalah wanita dan lulusan sekolah SD,
SMP, dan SMA.
Fitri karyawati yang berusia 17 tahun dan sudah
bekerja seminggu sebelum kebakaran terjadi. Asal mula masuk kerja Fitri diajak
sepupunya yang lebih awal dulu bekerja sebagai mengemas kembang api. Sesaat
perekrutan sebagai karyawan, Fitri langsung
dipekerjakan. Tugasnya hanya mengemas kembang api ke dalam plastik dan kemudian
menyusunnya ke dalam karton. Sehari-hari waktu kerja Fitri selama tujuh jam dan
di tambah satu jam waktu istirahat siang pada pukul 13.00 WIB. Fitri hanya
diberikan upah sejumlah Rp 40 ribu per hari dan jika ada borongan para pekerja
di gaji Rp 7 ribu per jam nya untuk lembur.
Fitri mengatakan selama bekerja
dipabrik, ia merasa nyaman. Fitri juga memberikan pengakuan bahwa bekerja dipabrik tersebut tidak mendapatkan SOP atau Asuransi Kesehatan.
Fitri dengan wajahnya melamun sembari
mengatakan, “Sangat tragis. Banyak yang meminta tolong. Dan pekerja yang
mengemas kembang api bagian dalam pabrik lebih memilih untuk bersembunyi di
dalam, karena asap dari depan menutupi penglihatan mereka ketika ingin
menyelematkan diri dan membuat mereka takut.”
Fitri memberikan pengakuan bahwa tenaga kerja dipabrik kembang api seratusan lebih, dan mengatakan betul bahwa kebanyakan di antaranya adalah perempuan dan anak di bawah
umur.”
Ketika meloloskan diri, Fitri menyeburkan diri terdahulu ke dalam bak yang berisi air, kemudian dia memanjat tembok yang sudah di jebolkan oleh Aparat Brimob dan Warga, Fitri tidak terkena
percikan api, melainkan suhu panas yang disebabkan oleh api menjadikan kulit
tangannya terbakar. Fitri adalah korban karyawan di PT. Panca Buana Cahaya
Sukses, yang terbilang masih di bawah umur.
Saat ini Fitri sudah bekerja kembali disalah satu pabrik produksi mainan anak di daerah kosambi, Fitri mengatakan bahwa dia sudah bekerja hampir dua tahun di pabrik mainan anak tersebut. seminggu sebelum Fitri bekerja di pabrik kembang api ternyata telah dirumahkan oleh pihak pabrik mainan anak yang dia pertama kerja, karena Fitri harus mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, Fitri terpaksa meminta bantuan kepada sepupunya untuk dimasukkan bekerja di PT. Panca Buana Cahaya Sukses.
Saat ini Fitri sudah bekerja kembali disalah satu pabrik produksi mainan anak di daerah kosambi, Fitri mengatakan bahwa dia sudah bekerja hampir dua tahun di pabrik mainan anak tersebut. seminggu sebelum Fitri bekerja di pabrik kembang api ternyata telah dirumahkan oleh pihak pabrik mainan anak yang dia pertama kerja, karena Fitri harus mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya, Fitri terpaksa meminta bantuan kepada sepupunya untuk dimasukkan bekerja di PT. Panca Buana Cahaya Sukses.
Sesudahnya suasana hening di Kampung Sawah. Jalanan gelap. Hanya cahaya remang-remang di depan rumah-rumah warga. Aliran listrik terpaksa diputuskan.
Hingga malam pun, evakuasi masih berjalan
untuk mencari korban yang masih terperangkap di lokasi kejadian. Ibu Astuti,
dengan hati gelisah. Duduk termenung. Berharap Surnah selamat.
Hingga malam itu, data-data dan indentitas
korban yang meninggal belum terdeteksi.
Astuti menangis histeris dan berteriak
untuk anaknya Surnah agar dapat kembali. Meminta kepada sang Suami Suki, agar
mengantarkannya kembali ke pabrik kembang api tersebut. Suki dengan tegar juga
menenangkan sang istri.
“Nanti ke sana, nanti ke sana” ucap Suki.
“Istigfar…istigfar” ucapnya lagi.
Selepas subuh, Astuti kembali histeris. Dan
mengatakan, “Aku mau ke pabrik, aku masih di sana, aku masih di sana. Di kamar
mandi” Teriaknya.
Tak kuasa melihat tangisan Astuti, Suki pun
memutuskan mengantar istrinya tersebut ke lokasi kebakaran. Ia tau bahwa
istrinya kerasukan roh Surnah. Sesampai di depan posko, Astuti kembali
berteriak histeris dan tangannya menunjuk ke pabrik yang sudah hancur.
“Istigfar…istigfar…” Suki mengucapkan untuk
istrinya.
Suki memeluk Astuti dan setibanya Astuti
terkulai lemas. Semenit kemudian Astuti sadar dan mulai menangis.
“Surnah…Surnah…”, suara Astuti meredup. “Surnah
masih di sana sama temannya. Di kamar mandi.”
Seorang petugas penjaga pos menyarankan
Suki untuk membawa istrinya tersebut pulang. Sebab semua korban sudah dievakuasi,
ucap Suki kepada saya.
Minggu, 19 Oktober 2017. Suki mendapatkan
kabar dari pihak RS. Polri bahwa indentitas anaknya Surnah sudah ditemukan dan
dapat dijemput agar disemayamkan di tempat istrihat terakhirnya.
| kondisi pabrik setelah lima bulan pasca kebakaran |
Lurah Kota, Kepala Desa Belimbing mengatakan,
“Bahwa bekerja di pabrik kembang api sangat mudah sekali untuk mendapat
pekerjaan. Tidak menggunakan lamaran kerja dan terima langsung masuk bekerja.
Kebanyakan bahwa masyarakatnya adalah yang memiliki pendidikan yang kurang dan
paling rendah adalah mereka yang lulusan atau
putus sekolah SD hingga SMP akibat perekonomian yang rendah. Hal ini
membuat para masyarakat belimbing berlomba-lomba untuk bekerja di pabrik
kembang api.”
Lurah menambahkan, “bahwa perisitiwa
kebakaran ini di akibatkan oleh Operasional yang lalai, Direktur
Operasional Perusahaan bernama Andri
Hartanto. Meminta Subarna Ega adalah seorang pengelas. agar mengelas atap
gudang bagian depan pabrik, kemudian mengakibatkan kebakaran karena percikan
api menyambar bahan baku kembang api yang tersusun di bagian penyimpanan.
Menurutnya, pekerja di dalam pabrik
sebanyak 103 orang dengan catatannya sebanyak 49 orang meninggal dunia yang diakibatkan
api telah mengepung bagian depan pabrik dan para korban lebih memilih
menyelamatkan diri melalui bagian belakang pabrik. Dan sisa korban lainnya
mengalami luka bakar dan ada yang patah tulang.
Beliau juga mengatakan, bahwa kepolisian
telah menangkap tersangka dalam
peristiwa ini, yakni Pemilik Perusahaan Indra Liyono, Direktur Operasional
Andri Hartanto, dan tersangka Tukang Las Surbana Ega. menurut Lurah, Surbana Ega tewas di tempat dan kepingan tubuhnya tidak dapat terindentifikasi. #GSH












Komentar
Posting Komentar